Langsung ke konten utama
Dia yang beranjak pergi
Pagi itu.. Handphone ku yang sedang tersambung kabel Usb diatas meja belajar berdering, membuatku beranjak malas untuk menggapainya. Kukira siapa yang menelephoneku pagi-pagi begini, rupanya Ayahku. " Ada apa nelpon pagi-pagi begini pak ? " Tanyaku pada ayahku. "Nggak apa-apa nak, cuma nelpon saja. Uang jajanmu masih ada kan ? " Ucap ayahku. Begitulah kurang lebih isi pendahuluan dari percakapan kami berdua. Dimataku, ayahku adalah seorang lelaki gagah yang mempunyai keinginan kuat untuk menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak ada orang lain yang sehebat bapak, yang mau membanting tulang demi aku anaknya. Panas, hujan, badai, angin.. segala rupa bentuk cuaca. Semua disanggupinya demi mencari serpihan receh demi menyambung tali pendidikan untuk anaknya. Ternyata.. ada maksud lain dari bapak menelponku pagi itu. Mungkin terakhir lebaran ini bapak pulang kerumah, jaga adikmu ya nak, dan dengan santainya bapak berkata kepadaku bahwa bapak dan mak mungkin tidak bisa bersama lagi . Aku tidak tahu mimpi apa aku semalam, hingga pagi buta begini aku mendengar kabar.. gubraaakkkk. Aku sempat tertegun memandang keluar jendela dengan pikiran yang campur aduk, aku bingung dengan apa yang bapak katakan kepadaku. Aku bingung kenapa harus aku yang pertama kali ia beritahu bukan anaknya yang lain.. bukan kakak ataupun adik laki-laki ku. Karena selama ini hampir kurang lebih 2 tahun aku melanjutkan belajar ke universitas yang beda kabupaten dengan lokasi rumah membuatku jarang pulang kerumah dan mengharuskanku untuk menetap di tempat yang tidak jauh dari lokasi kampusku. Hal ini membuatku tidak bisa memantau tentang apa yang telah terjadi antara kedua orangtuaku disana. Aku hanya menangis tipis, namun tangisanku sempat terdengar oleh ayahku yang berada di seberang telepon sana. Bapak berkata kepadaku, bahwa aku harus terima kenyataan ini. " Kamu kan sudah kuliah, sudah besar, sudah mulai mengerti semuanya, maafkan bapak nak.. maafkan bapak", Ucap ayahku. Aku bingung harus bicara dengan siapa 😭 kakak ku baru saja berangkat ke Shanghai Cina beberapa bulan yang lalu, mana mungkin aku memberitahunya mengenai perpisahan yang terjadi diantara kedua orangtua kami. Pastilah hal ini akan mengganggu pikirannya disana, karena untuk pulang ke Indonesia kembali tidak mungkin dilakukannya sekarang.. dan aku tidak mau itu terjadi, mengingat ia sudah tanda tangan kontrak kerja selama 2 tahun kedepan. Dan lain halnya dengan alasanku untuk tidak memberitahu adikku mengenai hal ini, berhubung adikku masih berumur 15 tahun.. dan sekarang ia baru mau masuk SMA membuatku semakin takut untuk bercerita kepadanya mengenai hal ini. Aku beranggapan bahwa adikku masih labil, aku takut brokenhome yang kami alami akan membuatnya menjadi anak berandalan seperti kebanyakan korban brokenhome yang berada diluar sana.. namun semua ini tidak membutku membedakan bentuk kasih sayang antara ayah ataupun dengan ibuku, kasih sayangku terhadap mereka berdua tak ada bedanya. Tanpa ibu aku tidak akan bisa lahir ke dunia, tanpa ayah apalagi.. mereka berdua sama, mereka adalah malaikat tak bersayap dihidupku. Walaupun sekarang aku tinggal bersama ibuku, aku tetap berkomunikasi dengan baik pada ayahku yang sering kusebut bapak.
Untuk kalian yang membaca tulisan ini, sayangi orangtua kalian. Jangan pernah kalian sia-siakan kebersamaan dengan keluarga. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluarga kita kedepannya. Selalu luangkan waktu.. selagi ada kesempatan.. untuk tertawa bersama ibu dan ayah kalian. Kesedihan terbesarku.. disaat begini, kakak tertuaku sedang tak bersamaku. Padahal dialah tempatku bercerita selama ini..
 |
| Hero |
*Sebenarnya ini cerita panjang banget, tapi aku singkat-singkatin aja hehe.. males nulis dibuku jadi aku mutusin buat nulis di blog dehhh🌼
Komentar