Menuju larut malam
Teringat masa lalu dari 2018 silam aku lupa kapan tepatnya. tinggal di asrama putri tepat di sebelah kiri gedung kampus tempatku kuliah. Kira-kira waktu itu aku sedang semester 3. Jadi, pada malam itu sedang mengerjakan tugas dari dosen, oh ya di asrama disediakan WiFi. Kebetulan aku tinggal di lantai 3 tepatnya di kamar 317. Disana aku tinggal berdua dengan teman seangkatan yang beda fakultas. Dari kamar ataupun depan kamar, signal WiFi tidak sampai. Jadi karena hal tersebut jadi kakiku diharuskan melangkah untuk turun ke lantai 1. Masih mengenakan mukenah habis sholat magrib. Laptop, buku mata kuliah yang bersangkutan, buku tulis binder beserta kotak pena dan teman temannya turut serta aku bawa. Tidak lupa, aku juga membawa handphone. Tibanya di lantai 1, kutemui beberapa penghuni asrama namun beda lantai melakukan hal sama seperti aku. Kami WiFi an, ada yang WiFi dan hanya membuka medsos melalui hp ada pula yang membawa laptop Seperti aku.
Pemandangan di asrama di malam hari cukup bagus, tepat di depan asrama terdapat lampu penerang yang dilapisi dengan kaca putih seperti bulan penuh. Di Dalamnya pun diterangi oleh lampu di setiap lantai pada titik yang sama persis di setiap lantainya. Malam itu aku mengambil posisi tepat di sebelah kiri lorong menuju keluar asrama, ku colokkan charger laptop karena baterainya yang sudah Soak dan tidak dapat hidup apabila tidak sambil di charge. Tidak sekedar membuat tugas, aku juga membuka medsos Instagram yaaa walaupun aku tidak mengisi feeds Instagram ku. Nikmat sekali bagi anak kos yang mode irit paket, kebetulan pula di asrama disediakan WiFi. Ketika sudah duduk di bawah, semua anak asrama yang sedang WiFi an jarangkali mengobrol dengan seurieus, kecuali untuk mereka mereka yang sudah akrab. Seperti halnya diriku yang tidak mudah akrab dengan siapapun, aku lebih memilih diam dan fokus dengan tujuanmu kemari malam itu. Malam semakin larut, aku belum sholat isya waktu itu. Teman seangkatan yang WiFi dan tadi sudah satu persatu Kembali ke kamarnya masing-masing. Hingga tersisa aku sendiri. Ditengah-tengah kesendirian ku, kulihat layar handphoneku menyala. Ternyata Abang ku (kakak laki-laki) yang menelpon. Langsung kuangkat, dia menanyakan bagaimana kabarku, sudah makan atau belum serta banyak pertanyaan lain yang tidak kuingat. Tiba tiba nada bicaranya menjadi serius, dia bilang jika dia akan berangkat ke China dan akan pergi ke pulau Jawa terlebih dahulu untuk datang ke tempat pendaftaran PT tempat ia akan bekerja. Sebelumnya dia menjelaskan alasan dia ingin pergi. Aku terdiam, kukira Abang hanya bergurau. Dalam obrolan malam itu, abang berpesan kepadaku bahwasanya aku menggantikan posisinya selama dia pergi. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, namun dia kembali berkata bahwa aku harus menjaga adikku yang bungsu dan menjaga ibuku (dalam hati aku berkata kenapa ibu harus dijaga padahal ada bapak) aku langsung menjerit menangis. Namun Abang tidak berhenti, ia masih melanjutkan petuah pesan yang sangat menyayat hatiku. Aku tau, Abang pergi hanya sebentar namun ketika dia baru berpamit pun aku merasa aman ditinggal selamanya.tangisan ini bukan tanpa alasan.aku merupakan tipikal anak perempuan yang begitu bergantung pada abang ku. dia adalah sosok kakak laki-laki yang sangat mengayomi adik-adiknya. aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. kedua saudaraku laki-laki semuanya. Ditengah-tengah tangisanku, rupanya ada teman asramaku yang belum tidur dia langsung menghampiri ku ke bawah. Mereka pikir aku sedang kesurupan karena sedang sendirian dan dalam keadaan nangis kejerr. Dituntunnya aku naik keatas, ohya nama temanku itu Nadia. Dia adalah musyrifah di asrama kami pada waktu itu. Musrifah itu adalah kakak pembimbing di asrama. Ya kami seumuran, menurutku karena kemampuannya dalam membaca Al Quran beserta latar dia alumni pondok pesantren maka ia dipilih menjadi kakak musyrifah. Aku langsung diajak ke kamarnya dan diberi air minum putih. Handphone ku masih terhubung dengan panggilan Abang ku di telepon.
Kepergian seorang yang kita sayangi, entah sebentar ataupun lama. Semuanya membuat sesak. Bukan karena ketergantungan, lebih tepatnya merasa sepi. Sepi. Sendiri. Bukan karena tiada teman untuk beberapa waktu. tidak semua hal akan jelas walaupun sudah dijelaskan. Kenangan akan muncul setelah berpisah, entah itu kenangan baik atau yang menyesakkan hati.
Bersambung....
Komentar